Home » motivasi » kisah inspiratif » Kisah Cinta – Dia Tidak Cantik, Tapi Cukup Membuatku Nyaman

kisah cinta

Kisah Cinta – Dia Tidak Cantik, Tapi Cukup Membuatku Nyaman

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah kisah cinta yang nyata. Ditengah perjalanan dalam mempelajari permasalahan-permasalahan anak muda, ada sebuah kisah unik yang dapat kita ambil manfaatnya. Sebuah moment dimana seseorang mencintai pasangannya, padahal dia sendiri sadar, bahwa orang yang dia pilih tersebut tidaklah cantik.

Sebut saja Andre. Dalam sebuah seminar yang bertajuk gejolak anak muda, kami menemukan sebuah pertanyaan yang cukup unik. “Mas, saat kita harus milih diantara dua orang, dan dua orang itu bersedia menjadi pendamping kita, kira-kira mana yang harus kita pilih? Yang satu cantik, tapi yang satunya lagi kurang cantik. Tapi diantara dua orang tersebut punya kelebihannya masing-masing”.

Jujur pertama saya menjawab pertanyaan itu saya sendiri tertawa. Ada dua wanita, yang satu cantik dan yang satunya lagi kurang cantik. Disuruh milih, ya pasti milih yang cantik. Itu logika pertama. Tapi saya mencoba untuk menjabarkan setiap opsi yang harus dipilih.

Yang pertama, Tentukan dulu apa tujuan kita. Baik itu tujuan duniawi, ataupun tujuan akherat. Kalau soal pilihan fisik, jelas yang cantik yang lebih menarik. Tapi sebuah hubungan bukan sekedar soal fisik. Kita semua pasti tau, yang cantik lambat laun akan memudar kecantikannya. Yang gagah lambat laun pasti akan semakin loyo. Yang seksi lambat laun pasti bakal renta tua dan tak seksi lagi.

Jika dari point, pertama kita pasti sepakat bahwa yang cantik pasti akan jauh lebih kita pilih. Menginjak point yang kedua. Yaitu soal hati. Saat kita harus memilih antara yang cantik dan yang kurang cantik. Kita juga harus mempertimbangkan yang namanya faktor kenyamanan. Dimana ini point yang paling berpengaruh dalam sebuah hubungan. Secantik apapun pasangan kita, kalau ngobrol aja nggak pernah nyambung yaa.. nggak bakalan nyaman. Begitu pula sebaliknya, sekalipun dia nggak begitu cantik, tapi dia bisa memahami diri kita, bisa mengerti apa yang kita sampaikan. Akhirnya ya terjalin komunikasi dua arah yang baik. Sedangkan komunikasi itu penjadi titik tumpu harmonisnya sebuah hubungan.

Ada lagi faktor ketiga, yaitu misi sebuah hubungan. Terkadang kita memilih pasangan bukan sekedar karena kita ingin memilikinya. Terkadang karena kita punya misi yang lebih dari sekedar hasrat ingin memiliki. Seperti contoh, seorang pemuda yang menikahi seorang janda karena ingin meringankan beban hidup janda tersebut. Atau seorang lelaki kaya raya yang menikasih wanita miskin untuk membantu dia keluar dari penderitaan.

Tentu banyak faktor yang harus kita pertimbangkan. Yang cantik bisa aja dia judes karena merasa cantik dan merasa diperebutkan banyak orang. Yang kurang cantik bisa jadi hati mereka lebih lembut, karena sadar dia tidak cantik maka dia lebih memilih mempercantik hatinya. Tapi ada juga yang cantik fisik juga cantik hatinya. Dan ada juga yang fisiknya nggak begitu cantik, hatinyapun juga buruk. Nah ini yang bikin repot.

Kembali ke pertanyaan dari saudara Andre, “Coba tanyakan lagi ke diri kamu, diantara kedua wanita tersebut, siapa yang lebih membuat kamu nyaman. Dan apa alasan kenapa kamu lebih nyaman sama dia?”.

Diapun menjawab, “Yaa.. Kalau ngobrol sih lebih nyambung sama yang kedua (yang nggak begitu cantik). Tapi kalau soal Pede semisal jalan keluar, atau ke kondangan, ya lebih Pede sama yang pertama (yang cantik)”.

Sontak seisi forum ketawa sambil neriakin Andre. Ya wajar kalau anak muda hanya melihat sekilas yang ada di depan mata. Dia memilih yang lebih cantik yang lebih seksi. Karena anak muda memang begitu. Suka pamer, “ini lho pacar gue… Cantik khan…” Ya seperti itu.

Tapi saat saya mencoba menggunakan logika psikologi, baru Andre agak bimbang dan ragu.

“Mas Andre, sekarang saya tanya. Kalau mas Andre hidup bersama salah satu dari dua orang tersebut, menurut mas Andre, siapa yang bakal lebih bahagia?. Yang cantik atau yang biasa-biasa aja?. Siapa yang bakal merasa lebih beruntung dapetin mas Andre?. Siapa yang bakal lebih merasa bahwa mas Andre adalah sosok pahlawan bagi dia?”.

Saat mendapat pertanyaan itu, Andre cuma bisa senyum diam dan tidak bisa menjawab. Setelah itu saya kasih dia waktu lima menit untuk mikir, kalau dah ketemu jawaban beserta alasannya saya persilakan berdiri kembali.

Sambil memberi waktu kepada Andre untuk berfikir. Saya menjelaskan ke peserta seminar tentang tujuan sebuah cinta. Tujuan kenapa kita memilih pasangan hidup. Dan tak lama kemudian Andre berdiri dan saya persilakan untuk bicara.

Dan Andrepun menjawab, bahwa yang kedualah yang akan merasa beruntung mendapatkan Andre. Dengan alasan, karena meskipun kurang cantik, ternyata ada seorang laki-laki yang tulus mencintai dia dan memperjuangkan kebahagiaan mereka bersama.

Jawaban yang sangat bijak sekali. Memang seperti itulah komitmen hidup. Terkadang kita perlu alasan ketiga jika dua alasan saja tidak cukup. Saat kita memilih pasangan hidup, artinya kita harus komitmen disisa hidup kita untuk selalu bersama. Jangan sampai kandas ditengah jalan lantas anak yang menjadi korban.

Saat kita harus memilih antara yang cantik dan yang kurang cantik. Yang cantik belum menjamin kita buat bahagia. Dan yang kurang cantikpun juga nggak menjamin kita buat bahagia. Bisa jadi yang cantik lebih nyaman buat kita. Bisa jadi pula yang kurang cantik justru yang bikin kita merasa betah.

Saat Andre memutuskan untuk memilih yang kurang cantik, tentu bukan tanpa alasan. Ada kalanya mereka yang cantik atau merasa diri mereka cantik, mereka memiliki watak yang lebih keras. Karena merasa punya kelebihan dan merasa diperebutkan banyak orang. Dan yang kedua, terkadang orang yang kurang cantik lebih memiliki sifat yang lembut dan mudah diatur. Karena merasa punya kekurangan.

Dan point yang paling penting adalah saat kita sudah hidup bersama mereka. Tujuan kita mencintai seseorang nggak lain yaitu pengen bikin dia bahagia. Dan Andre menjelaskan, bahwa yang cantik belum tentu bahagia sama dia. Dan yang kurang cantik bisa jadi dia akan menjadi orang yang paling bahagia saat bersamanya nanti. Menurut dia, kalau yang cantik banyak orang yang bisa bikin dia bahagia. Tapi kalau yang kurang cantik, dia akan lebih bersyukur saat ada seseorang memilihnya sebagai pendamping hidupnya dunia akhirat.

Dan pada akhirnya, Andre mampu memutuskan bahwa dia lebih memilih yang kedua sekalipun kalah cantik sama yang pertama. Tapi menurut dia, yang kedua lebih nyaman buat dia. Lebih adem kalau bahasa dia.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar