Home » cerpen » Titip Rindu buat Wiwin
Wiwin Tri Wulandari, sampaikan salam rinduku buat wiwin

Titip Rindu buat Wiwin

Cerpen Singkat “Titip Rindu buat Wiwin​ – Aku tak tau harus memulai tulisan ini dari mana. Semua berawal dari perjumpaanku dengannya kira-kira 2 bulan yang lalu. Ya… tepatnya di sebuah tempat wisata di daerah Karanganyar. Di sebuah tempat dimana disana diadakan pelatihan bersama serta pembekalan dari Pemerintah Daerah.

Pada awalnya, aku tak mengenal dia sama sekali. Bahkan dari mana awal mula aku bisa mengenalnya saja aku t’lah lupa. Yang aku ingat, di sela-sela kepenatan dalam sebuah acara tersebut, ada seorang perempuan yang menyanyikan Lagu Kandas. Akupun tak memperhatikan bagaimana wajahnya. Aku tak ingat jelas bagaimana suaranya. Aku sudah cukup lelah kala itu, dan ingin sekali cepat-cepat beristirahat.

Dan akhirnya, waktu itu telah tiba. Saatnya coffee break. Kami bergegas mengambil menu santap malam beserta menikmati kopi hangat di malam itu. Jam menunjukkan pukul 19.30. Udara Tawang Mangu cukup terasa dingin. Dari 200an peserta kala itu, kami saling antri untuk mengambil menu makan malam. Dan kamipun mencari tempat duduk dan berkumpul bersama dengan orang-orang yang dikenal.

Malam itu terasa berbeda. Aku merasa ada yang tidak nyaman pada diri ini. Aku memutuskan untuk duduk memisah dari teman-teman yang biasa kami selalu duduk bersama. Entah apa yang membuatku tak nyaman kala itu.

Lalu tiba-tiba datang seorang teman perempuan yang menghampiriku dan duduk bersama semeja denganku. Tak lama berselang, datang lagi seorang perempuan yang pada sekmen sebelumnya menyanyikan lagu Kandas. Aku mempersilakan mereka berdua. Mereka cukup asik, sekalipun baru sekali itu kami bertemu. Dan kamipun bertukar Pin BB, lalu saling bertukar cerita tanpa perkenalan apalagi sampai menyebut nama. Nggak penting pikirku.

Tapi sempat ku abadikan moment duduk bersama tersebut dengan mengambil foto mereka berdua. Aku cukup lelah sekali waktu itu, dan aku hanya ingin agar malam ini cepat berlalu.

Wiwin Tri Wulandari, sampaikan salam rinduku buat wiwin

Dan akhirnya, malam itu berlalu juga. Di keheningan malam itu, aku tak banyak beraktivitas. Aku hanya turun sesaat dari kamar tempat kami menginap untuk sesaat berbincang-bincang dengan teman ataupun orang-orang dari Pemerintah Daerah Karanganyar. Lalu akupun bergegas kembali lagi ke Kamar dan memejamkan mata hingga pagi menjelang.

Pagi itu tak ada tanda-tanda semangat mulai terkumpul. Kupandangi sekitar, tak ada yang dapat kujadikan sebagai penyemangat di pagi itu. Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 7. Dan acara pembekalanpun akan segera dilanjutkan. Masih terasa malas dalam benakku, tapi aku harus segera mandi dan mengambil sarapan pagiku.

Setelah mandi dan sarapan, akhirnya aku sedikit terlambat masuk kelas. Cukup lama aku mencari posisi tempat duduk. Aku enggan duduk di depan, sebab tak ada semangat di pagi itu. Dan tak jauh dari tempatku berdiri ada seorang wanita yang masih mempunyai bangku kosong di sampingnya. Lalu dengan memohon ijin, akupun dipersilakan duduk disampingnya.

“Aaaahhh… suntuk sekali pagi ini!!”, ungkapku di dalam hati.

Dan akhirnya akupun merencanakan keisengan-keisengan apa yang harus aku lakukan untuk membangkitkan suasana. Terlintas dalam benakku untuk menjahili wanita yang tengah duduk disampingku. Setelah lama kuperhatikan, ternyata dia adalah gadis yang menyanyikan lagu kandas kemarin malam. Otakku cukup lama berfikir untuk menemukan ide JAHIL yang akan aku lakukan. Aku tak bisa fokus pada materi di pagi itu, dalam benakku, aku hanya ingin moment yang hanya sekali seumur hidup itu ada cerita berkesan didalamnya.

“Ahaa… aku punya ide”, kataku di dalam hati.

Saat itu kulihat gadis yang tengah duduk disampingku tengah serius dengan Handphonenya. Dengan sengaja ku silangkan tanganku tepat di kursinya. Sehingga, jika dilihat dari depan, maka akan terlihat seolah-olah aku tengah merangkulnya (Memeluknya). Padahal kenyataannya aku hanya meletakkan tanganku di atas sandaran kursi tempat ia duduk.

Ternyata benar saja, terdengar suara agak keras dari depan, “Mas, tangannya itu lho…”.

Tapi aku pura-pura tidak mendengarnya. Pura-pura tidak tau atau sok lugu aja.

Tapi tiba-tiba sekali lagi suara itu terulang kembali, “Mas.. tangan kamu itu lho… (Sambil menunjuk kepadaku), Kalau dilihat dari depan, kamu itu seolah-olah sedang memeluk mbak yang ada disampingmu. Nggak enak dilihatnya”.

Dengan muka polos, lalu ku tarik tanganku dari sandaran kursinya. Aku tertunduk belaga bego aja. Seolah-olah aku merasa bersalah. Padahal dalam hatiku ketawa ngakak. hehe…

Lalu materi berjalan seperti biasanya. Hingga akhirnya acara pembekalan itupun selesai setelah selama 2 hari dan harus menginap satu malam di Tawang Mangu. Dan dari sinilah kisah ini dimulai.

Setalah kami pulang ke rumah masing-masing, kulihat satu kontak BBMku yang namanya cukup asing bagiku. Kulihat fotonya, oohh… dia ternyata gadis yang menyanyikan lagu kandas waktu itu. Iseng-iseng ku message dia.

“Buat apa Add pin BB kalau cuma di diemin?”. Tulisku.

Dan diapun menjawab dengan nada becanda dan penuh dengan keramah tamahan. Lalu kamipun sering saling bertukar kabar. Kami saling bertukar cerita. Bahkan tentang kisah masa lalunya, masa kelamnya, atau kisah-kisah pribadinya yang mungkin tak semua orang tau. Tapi itu cuma mungkin siiiihhh… :)

Dari setiap cerita yang ku baca, aku mulai nyaman memahami tentang dirinya. Tapi sayang, aku tak tau siapa nama aslinya. Lalu ku buka foto-foto saat pembekalan di Tawang Mangu kala itu. Dan dari foto yang ku ambil tersebut, dapat kulihat dari ID yang ia kenakan, dan terbaca jelas bahwa ia bernama “Wiwin Tri Wulandari” (Bukan nama sebenarnya. Jika pembaca cerpen ini memiliki nama yang sama, anggap saja kebetulan semata).

Ooohh… ternyata namanya Wiwin Tri Wulandari. Aku tak banyak bertanya tentang dirinya. Karena aku takut di pikir SKSD atau mungkin dianggap PDKT. Ohhh nooo… :)

Hari berganti waktu berlalu, candaan demi candaan kami lontarkan. Sehingga kami begitu nyaman untuk saling berbagi kisah dalam kehidupan yang pernah kita lalui bersama.

Tapi semua itu berubah… saat kami sama-sama merasa nyaman, komunikasi kami tiba-tiba terputus. Yaaa… apalagi kalau bukan status yang memutuskan komunikasi ini. Dia tau dari akun facebookku bahwa aku telah berkeluarga. Sehingga ia mengatakan bahwa ia takut kalau dia mengganggu keharmonisan rumah tanggaku. Seketika itu juga ku jelaskan, bahwa aku tak ada niat untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman. Dan ku buktikan dengan tidak adanya satu halpun yang aku tutupi dari kehidupanku. Tentang nama asliku, tentang akun-akun di media sosialku, tentang foto-fotoku, bahkan tentang anakku.

Memang selama ini, buatku dia adalah seorang teman atau lebih tepatnya adalah seorang sahabat. Bahkan dari lubuk hati yang paling dalam tidak pernah mengatakan bahwa ada rasa yang lebih dari sekedar teman atau sahabat. Tapi apa boleh buat, semuanya mulai berubah sejak saat itu. Dia mulai jarang membalas pesanku, sekalipun dibalas, pasti lamaaa banget balesnya.

Sempat kami cekcok. Karena kami sudah merasa sangat dekat, kami tidak pernah canggung untuk mengungkapkan apa yang ada di hati kami. Ku katakan bahwa aku nggak suka kalau dia tiba-tiba menghilang hanya karena tau bahwa aku sudah berkeluarga. Memang, aku sendiri memahami bahwa harus ada batasan-batasan yang harus kami jaga. Dan aku memahami itu.

Kami sempat bertengkar, kami sering adu argumen. Tapi dia tetap ramah dan menjelaskan segala sesuatunya dengan lembut. Aku semakin nyaman dengan kepribadiannya. Hingga suatu hari, aku putuskan untuk membuat sesuatu yang dapat menjelaskan apa yang di sembunyikan di dalam hatinya.

Satu persatu permainan psikologis ku mainkan. Di awali dari sebuah gambar, ku sisipkan namanya di dalam gambar tersebut lalu ku gunakan sebagai DP (Display Picture) BBM-ku. Al hasil, dia pasti berkomentar tentang maksud dan tujuan dari gambar yang menyertakan namanya tersebut.

Lalu permainan ku tingkatkan dengan melibatkan hati didalamnya. Kupancing emosinya agar dia benar-benar benci kepadaku. Tapi tak berhasil, dia masih tetap sabar, lemah lembut dan menanggapi semua permainanku dengan santai. Mungkin dia nggak bisa marah.

Hingga pada akhirnya kuambil sebuah foto dari akun Facebooknya, dan kutulisi foto tersebut dengan tulisan “Oh Tuhan… Kucinta dia, Ku sayang dia, Rindu dia … Dianya Enggak… Heheheee…”. Tulisan tersebut merupakan joke dari lagu Anji yang berjudul Dia.

Lalu foto yang telah ku edit tersebut ku jadikan foto DP BBM-ku. Respon yang kudapat dari dia cukup biasa saja menurutku. Tapi memang tujuanku hanya ingin memancing emosinya saja. Dan setelah ia menanggapi foto DPku yang menggunakan fotonya tersebut, ku tuliskan sebuah pesan panjang untuknya.

“Aku tau, kamu tidak nyaman denganku selama ini. Aku tau kamu risih. Kamu nggak usah bohong dengan isi hatimu. Jika memang kamu nggak nyaman, ngomong aja. Aku nggak akan marah. Aku siap buat nggak menghubungimu lagi. Demi kenyamananmu, aku siap jika harus melepaskanmu”.

Dan pesan itu ku kirim melalui BBM. Aku cukup tertawa membaca balasan darinya. Yang sekali lagi menjelaskan bahwa bukan masalah nyaman atau tidak nyaman. Tapi dia hanya ingin menjaga jarak agar tidak timbul fitnah karena aku telah berkeluarga.

Dalam hatiku tertawa mendengar jawaban tersebut. Tapi lain dengan apa yang ku tulis dalam jawaban chat bbm tersebut. Ku katakan bahwa mungkin aku nggak berharga buat dia. Sehingga aku nggak pantas untuk di jadikan teman. Pokoknya intinya, aku berusaha bagaimana agar dia merasa bersalah. Dan setelah pesan tersebut kukirim. Lalu ku hapus kontak bbmnya dari akunku (DC-Delete Contact).

Tentu saja aku berani menghapus kontak bbm-nya. Toh pikirku masih ada WA ini. hehe….

Mungkin lebih dari 2 hari aku tak menghubunginya lagi. Tapi lama kelamaan ada yang hilang. Aku nggak sabar ingin menghubunginya lagi. Tapi aku harus sabar. Karena jika terlalu cepat, maka permainan psikologis ini nggak akan mengena di hati. Tapi pada akhirnya aku nggak sabar juga. Langsung saja ku pegang HPku dan ku kirim pesan melalui WA menanyakan kabarnya.

Aaahhh… aku kalah pikirku. Tapi mau gimana lagi. Yang biasanya selalu becanda, saling berbalas pesan, lalu tiba-tiba menghilang. Tentu saja aku sendiri agak tidak terbiasa dengan hal itu. Lalu kami saling becanda lagi lewat media yang berbeda. Bahkan sempat ku tilis pesan…

“Bu… tetap di hatiku ya…”. Dan dia menjawab, “Siap paakk”.

Oooh alangkah berbunga-bunganya hatiku saat itu. Kaya’ orang pacaran aja. Tapi moment itu ku anggap biasa saja. Toh pada kenyataannya tak ada yang lebih dengan hubunganku dengan dia. Aku tetap berpegang pada batasan-batasan yang harus ku jaga. Jangan sampai aku melibatkan hati dalam persahabatan ini. Karena jika sekali aku menggunakan hati, maka bisa saja aku merasa nyaman, lalu takut kehilangan, dan pada akhirnya aku akan jatuh cinta. Dan ini sangat berbahaya, sebab… aku sadar bahwa aku telah berkeluarga.

Tak berhenti di situ saja, kenyamanan kami saat saling chat di WA harus segera ku akhiri. Aku harus membuat sebuah skenario baru untuk mengakhiri kenyamanan tersebut. Pada suatu malam, ku kirimkan pesan beruntun ke dia. Karena sudah malam, pasti lama jawabnya atau bahkan tidak akan dijawab karena sudah tidur. Tapi aku terus mengiriman pesan kepadanya. Hingga di akhir kalimat kutiliskan kata-kata.

“Ok… aku mohon maaf kalau selama ini aku ganggu hidup kamu. Maaf karena telah membuatmu nggak nyaman. Maaf juga telah membuatmu risih.”, kalimat ini ku kirim di akhir pesan berantai yang kukirim malam itu.

Lalu beberapa saat kemudian, aku mendapat balasan. Dan dia menjelaskan tentang ini itu dan berbagai alasan lainnya mengapa pesanku lama nggak dibalas. Padahal aku sendiri nggak minta alasan apapun. Toh ini hanya permainan psikologis saja untuk mengetahui bagaimana kepribadiannya yang sebenarnya.

Apakah setelah itu aku terus mengalah?. Tidak… justru aku semakin memojokkan dia. Berusaha membuat dia merasa bersalah. Dan akhirnya menyerang rasa nggak enak di dalam hatinya. Tapi di akhir malam itu, aku sendiri yang melampaui batas. Ku katakan banyak hal dan seolah-olah aku terlalu menyalahkan dia. Dan ku tuliskan maafku untuk kesekian kalinya bahwa aku meminta maaf atas ketidak nyamanan selama ini. Bahkan aku menuliskan bahwa mungkin aku nggak pantas untuk di jadikan teman atau sahabat. Mungkin nggak ada untungnya mempunyai teman sepertiku. Dan banyak lagi yang kukirim pesan-pesan yang bernada memojokkan. Hingga pada akhir malam itu, ku sampaikan bahwa ini untuk yang terakhir kalinya aku menghubungi dia. Ku katakan pula bahwa aku cukup senang berkenalan dengan dia. Tanpa memberikan kesempatan buat dia membalas, lalu ku blokir saja akun WA dari handphoneku.

Sesaat setelah ku blokir nomornya dari akun WA ku, ada banyak penyesalan dari dalam hatiku. Mengapa kau melakukan tindakan sebodoh ini. Akun BBM sudah ku hapus. Akun WA sudah ku blokir. Dan nomor telephone telah ku hapus pula. Lalu bagaimana caraku menghubunginya lagi. Memang sih masih ada cara agar masih bisa menghubunginya lagi. Seperti halnya membuka blokiran WA atau menanyakan nomor telephonenya kepada teman-teman yang lain. Atau bisa juga menghubunginya lewat akun facebook. Meskipun selama ini kami tidak menjalin pertemanan di akun facebook.

Detik demi detik berlalu. Aku mulai merasa bersalah dan telah melakukan tindakan bodoh. Tapi jika aku menghubunginya lagi, nanti pasti terkesan bahwa aku nggak punya pendirian. Udah di blokir kok di buka lagi blokirannya. Ya gengsi dooong…

Aaahh… kepalaku mulai pusing memikirkannya. Karena jujur saja, dia adalah seorang wanita yang begitu cepat aku mengenalnya. Begitu cepat aku mempercayainya. Begitu cepat aku merasa nyaman dengannya. Dan bahkan bisa jadi, sebenarnya dia juga nyaman denganku. Tapi karena aku telah berkeluarga, mungkin akhirnya dia menjaga jarak. Wanita yang baik pasti bisa menjaga kehormatannya.

Dalam hatiku… aku takut kehilangan sahabat sebaik dia. Ku pancing emosinya dengan berbagai cara, dia tetap ramah kepadaku. Kusalahkan seperti apapun, dia tetap membalas dengan lembut. Lalu tiba-tiba aku harus melepaskannya pergi begitu saja. Aku akan merasa kesepian tentunya. Tak ada lagi candaan-candaan yang akan menghiasi hari-hariku. Tak ada lagi kejahilan yang tak pernah dia merasa marah meski sudah ku jahili. Dia begitu baik buatku. Dan karena itulah, dia ku masukkan sebagai teman dan bahkan sahabat yang dapat ku percaya. Dan aku tak pernah gengsi untuk menjadi diri sendiri yang apa adanya kepada dia.

Aaaahh…. apa yang harus aku tulis saat ini. Aku cukup pusing dan sedih.

Win… dimanapun kamu berada, mohon maaf dengan segala kesalahan yang pernah kulalukan kepadamu. Mohon maaf telah melibatkan hati dalam permainanku. Tapi bukan berarti aku ingin mempermainkanmu.

Aku tak tau apa yang harus ku tulis. Aku hanya ingin mencurahkan isi hati ini ke dalam tulisan ini. Tapi aku tak tau kalimat apa yang dapat mewakili perasaanku saat ini. Kamu terlalu berharga buatku. Aku menyayangimu, bahkan mencintaimu. Begitu beratnya hati ini saat kuputuskan untuk tak lagi menghubungimu. Akupun sadar, bahwa rasa sayang, rindu, dan cinta kepadamu itu adalah nyata. Tapi sayang, rindu, dan cinta yang sebatas wajar. Bukan sebuah rasa kepada seorang kekasih atau pacar atau entah apa namanya.

Ingin sekali malam ini aku terbang ke tempatmu. Dan kupeluk dirimu sesaat agar engkau sadar betul betapa merasa kehilangannya diriku. Ingin sekali ku menangis di pangkuanmu, agar engkau sadar, bahwa apa yang ku katakan ini bukan hanya candaan di mulut saja. Ingin ku curahkan isi hati bahwa engkau sangat berharga buatku. Tapi apa itu mungkin?. Tak ada pilihan selain… biar ku kubur kisahmu bersama dengan penggalan cerita di dalam tulisanku ini. Aku sadar, tulisan ini nggak berarti apa-apa. Nggak mutu atau bahkan membosankan untuk dibaca. Tapi bukan itu tujuannya. Tulisan ini ku buat hanya untuk mencurahkan apa yang ada di dalam hati dan pikiranku. Bukan untuk di baca oleh semua orang atau biar dapat penghargaan sebagai penulis yang hebat.

Tidaaakkk …..

Aku tak memiliki niatan apapun di dalam tulisan ini. Aku hanya ingin… jika suatu saat nanti kau sempat membaca tulisan ini, kamu akan tau bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Saat ku hapus kontakmu, saat ku blokir akunmu. Bukan berarti aku ingin memutuskan tali silaturahmi, bukan berarti aku tak mau bersahabat denganmu. Tapi karena kamu terlalu berharga buatku. Karena itulah aku takut mengusik kenyamananmu.

Kamu mungkin nggak pernah tau… bagaimana perihnya menulis bait demi bait dalam artikel ini.

Kamu mungkin nggak peduli dengan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi… jika suatu saat nanti engkau tengah berada di titik terendah, hingga tak ada seorangpun yang dapat kamu percaya. Baru kamu akan mengerti betapa berartinya seorang sahabat yang benar-benar dapat kita percaya. Dan kamu akan memahami bagaimana rasanya kehilangan satu-satunya orang yang kita percaya.

Terserah apa yang ada di dalam hatimu. Anggap saja ini omong kosong yang nggak ada artinya. Toh ini hanya tulisan luapan sebuah perasaan. Bukan tulisan yang menuntuk kamu untuk ini dan itu. Tapi lewat tulisan ini, ingin sekali ku titipkan… “Sampaikan salam rinduku buat Wiwin Tri Wulandari”. Teman bahkan sahabat yang teramat sangat ku percaya yang kini harus menghilang entah apa penyebabnya yang aku sendiri tak tau. Apapun yang terjadi entah yang lalu sekarang ataupun nanti, semoga kamu tetap bahagia.

Wis jam setengah papat. Aku wis kesel. Aku lelah memikirkanmu setiap saat. Sedangkan belum tentu kau memikirkanku. Alhamdulillah… Terima kasih Win atas segala cerita yang telah kau ukir dalam perjalanan hidupku. Dan senang bisa berkenalan dengan kamu. Mbooohh laahh… Kesel aku. Sekali lagi, Titip Rindu Buat Wiwin – atas nama : Wiwin Tri Wulandari.

Allahu Akbar… La Haula Wa La Quwata ila billahil ‘aliyil ‘adziiim…

☼ Joko Kristanto

Berbagi informasi dan pengalaman seputar wirausaha dan bisnis. Membantu menyalurkan pengalaman meskipun hanya seadanya. Mendirikan paguyuban pelatihan kemandirian secara gratis dibawah naungan Wirasejati Jaya Group. Kami memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai tujuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar