Home » motivasi » Mental Bisnis Mental Petarung, Apakah kita punya?

mental bisnis

Mental Bisnis Mental Petarung, Apakah kita punya?

Mental bisnis adalah senjata utama dalam wirausaha. Salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pembisnis adalah jiwa yang memiliki mental petarung. Dalam kata lain biasa disebut dengan istilah Fighter Spirit. Yaitu sebuah sifat pemberani, sifat yang berani mengambil resiko dan berani menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Memiliki mental petarung atau fighter bukan berarti senang berkelahi atau ribut sana sini. Melainkan sikap yang tegar berani dan pantang mundur dalam segala medan yang dilaluinya. Mengapa seorang pengusaha pembisnis atau wirausaha harus memiliki sikap ini? Kita akan uraikan bait demi bait yang akan sangat berguna bagi kita didalam motivasi bisnis.

Apa yang dimaksud dengan mental bisnis?

Sebagian besar orang enggan atau tidak berani memulai berwirausaha salah satunya adalah rasa takut yang masih membayangi diri mereka. Rasa takut jika nanti gagal, takut jika nanti banyak mempunyai hutang, takut jika nanti ditagih dan dikejar-kejar Dep Kolektor (Debt Collector). Dan selalu jika nanti jika nanti dan jika nanti. Padahal rasa takut yang kita takuti pada saat itu hanyalah bayangan. Bukan sesuatu yang nyata.

Kita baru membayangkan saja kita sudah takut. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi. Banyak orang yang takut dengan bayangan mereka sendiri. Mungkin karena Indonesia terlalu lama di jajah Belanda, di jaman itu bisa makan aja sudah bersyukur banget. Dan sifat ini menurun ke anak cucu. Jadi, bisa makan aja dah seneng. Lalu, apa harus tetap seperti ini?. Semua pemuda seluruh Indonesia berjuang bukan untuk menjadi yang di depan. Melainkan berjuang untuk berlomba membuat surat lamaran yang akan kita sodorkan ke bangku direksi orang-orang non Indonesia. Indonesia lebih memerlukan pengusaha-pengusaha baru.

Banyak pengangguran disebabkan karena tidak seimbangnya antara pencari kerja dengan jumlah lapangan kerja yang ditawarkan. Apakah sampai anak cucu kita nanti kita akan terus-terusan seperti ini.

Wahai kalian pemuda dan pemudi Indonesia, saatnya kita bangkit. Saatnya kita mandiri. Saatnya kita berdikari. Seperti pesan bapak proklamator kita, Soekarno Hata. Mereka berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia agar Indonesia bisa berdikari yaitu Berdiri diatas kaki sendiri.

Jangan sampai perekonomian Indonesia di kuasai oleh pihak asing. Indonesia harus menjadi raja di rumah sendiri. Berapa banyak pekerja Indonesia yang rela di caci maki hanya untuk sesuap nasi. Semuanya boleh-boleh saja. Mau kita menjadi karyawan mau kita menjadi guru mau kita menjadi bos. Itu sudah menjadi hal-hal yang tidak bisa dipisahkan.

Seorang bos atau pengusaha pasti memerlukan karyawan. Orang tua pasti memerlukan seorang Guru bagi anak-anak mereka. Dan yang tak kalah penting, seorang karyawan pasti memerlukan Bos yang akan membayar mereka.

Mari kita lihat kembali sejarah perjuangan Indonesia, para pahlawan kita begitu pemberani melawan para penjajah. Mereka pantang mundur untuk mengejar sebuah kata, yaitu Merdeka. Demikian pula dengan diri kita, sekarang Indonesia telah merdeka. Tapi, apakah diri kita sudah benar-benar merdeka?. Banyak orang yang mundur sebelum berperang. Banyak orang yang lari sebelum tiba di medan laga. Seperti inilah gambaran didalam dunia bisnis.

Terkadang kita terluka sakit tak terkira, namun jika kita mampu melawan musus kita, maka sebuah kemenangan yang nyata akan kita rasakan. Dan taukah kalian siapa musuh yang kami maksud?. Dia adalah diri kita sendiri. Rasa takut pada diri kita adalah musuh yang harus kita lawan. Jangan pernah takut untuk memulai. Untuk itulah kami singgung tentang mental petarung. Agar kita mampu dan berani menghadapi setiap rintangan yang ada.

Banyak orang yang lari saat menghadapi sebuah resiko. Merekalah orang-orang yang berjiwa pengecut. Rata-rata orang seperti ini akan merasa gagah dan tak terkalahkan di saat posisi sedang aman. Dan dia bersembunyi mencari kambing hitam mencari perlindungan saat terancam. Ancaman dalam hidup bisa berbagai warna. Kemiskinan misalnya, seorang pengecut akan menyalahkan orang tuanya kenapa hidup miskin. Termasuk didalamnya adalah masalah hutang. Hampir tidak ada di dunia ini manusia yang tidak berhutang.

Terlebih mereka para pengusaha. Mereka berani mengambil resiko untuk mengatasi masalah hutang dengan mencari pinjaman ke Bank atau Koperasi. Dan saat usaha mereka jatuh, seorang yang memiliki jiwa petarung akan senantiasa berani menghadapi setiap permasalahan yang ditimbulkannya. Namun berbeda jika dia adalah seorang pengecut, mereka akan pergi lari dan membiarkan anak istri dan keluarga yang lain menghadapi orang-orang yang mencari kita.

Coba anda bayangkan, saat anda memiliki hutang, lalu anda pergi kabur dari rumah yang tak seorangpun tau keberadaan anda, datang kerumah anda seorang debt collector dengan badan besar dan berbaju preman. Lalu menggedor rumah anda, sedangkan didalam rumah itu hanya ada anak dan istri anda. Bagaimana mereka saat berhadapan dengan orang-orang ini?. Bukankah kita sebagai laki-laki yang seharusnya melindungi istri dan anak-anak kita?. Bukannya justru membiarkan mereka berhadapan dengan orang yang seharusnya kita hadapi.

Jangan pernah lari, apapun resikonya, jangan pernah lari dari sebuah permasalahan. Jika kalian menghadapinya, akan selalu ada solusi. Namun, jika kalian tidak pernah menghadapinya, maka masalah itu tidak akan pernah terselesaikan. Karena kunci utama penyelesaian masalah ini terletak pada diri anda sendiri. Yaitu sikap berani mengambil resiko, dan berani menghadapi resiko. Jika anda sendiri tidak mempunyai keberanian menghadapi resiko, maka selamanya anda kan menjadi pengecut yang bersembunyi di balik ketiak sang ibu.

Melemparkan masalah kepada orang lain juga termasuk bukan mental seseorang petarung. Seorang petarung akan mengatakan, “Ya ini salah saya, dan saya yang bertanggung jawab”. Tapi sayang, sangat jarang sekali orang-orang yang seperti ini. Bahkan mereka yang sering mengatakan kita harus bersatu, kita harus ini itu ,,, belum tentu mereka juga berani mengatakan “Ini tanggung jawab saya” saat masalah muncul ke permukaan.

Mental Petarung menjadi topik pada artikel ini dikarenakan adanya sebuah kisah yang sangat pedih yang pernah kami alami. Saat itu, usaha yang kami alami sedang jatuh. Semua orang bahkan seluruh keluarga ikut menyalahkan salah satu diantara kami. Tapi kami selalu siap dan kami selalu mengatakan, “Ini kesalahan kami, dan kami yang akan menanggung segala resikonya”. Semoga dengan kutipan pada artikel ini dapat memberikan motivasi kepada kita semua tentang keberanian menghadapi masalah.

Jangan pernah lari sepahit apapun permasalahan tersebut. Jadilah seseorang yang pemberani. Jika kita berani menghadapi, maka hanya ada dua kemungkinan, yaitu 1. Kita berhasil menyelesaikan masalah, 2. Kita mati dalam rangka menyelesaikan masalah bukan mati saat lari dari masalah. Mulai dari sekarang, buang sifat pengecut pada diri, hadapi semua kegagalan dengan gagah berani. Lakukan saja yang terbaik yang masih bisa kita lakukan. Perkuat lapisan baja mental petarung kita. Maka jalan menuju kesuksesan akan terbuka dengan sendirinya. Kami sudah mengalaminya, bagaimana dengan anda?


☼ Joko Kristanto

Berbagi informasi dan pengalaman seputar wirausaha dan bisnis. Membantu menyalurkan pengalaman meskipun hanya seadanya. Mendirikan paguyuban pelatihan kemandirian secara gratis dibawah naungan Wirasejati Jaya Group. Kami memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai tujuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar