Home » traveling » Kisah Nyata Masjid An Nur Jamil Solo

Kisah Nyata Masjid An Nur Jamil Solo

Kisah Nyata Masjid An Nur Jamil Solo

Pagi ini kami berdua bersama satu orang teman sedang berkemas untuk melakukan touring jauh. Traveling jauh dari sisi timur kota Solo menuju sisi Barat kota Jakarta. Kami berkemas secepat mungkin karena malam tadi belum sempat berkemas. Dan sebelum siang hari kami harus segera berangkat.

Tak lama berselang, kami sudah siap menjajal si roda dua untuk menempuh perjalanan terpanjang dalam sejarah kami. Yaitu, berkendara sepeda motor dari Solo ke Jakarta.

Kisah Nyata Masjid An Nur Jamil Solo

Siang itu setelah berpamitan dengan keluarga, kami berangkat memacu si kuda besi meninggalkan heningnya Desa Pendem, Mojogedang, Karanganyar, Mengejar pos pertama yaitu di Solo kota. Dengan berkendara dan dihiasai gerimis hujan sepanjang jalan, akhirnya kami sampai juga di kota Solo.

Setelah singgah beristirahat sebentar sambil menikmati kopi hitam, kami mempunyai pengalaman unik. Kejadian itu adalah saat kami melihat rombongan Presiden Jokowi melintas di depan warung tempat kami beristirahat. Ternyata Presiden Jokowi beserta rombongan sedang meninjau lokasi Kebakaran Pasar Klewer. Ini adalah Kisah Nyata Masjid An Nur Jamil Solo yang baru saja dimulai.

Tak lama dari itu, kami melanjutkan perjalanan. Karena waktu sudah menunjukkan jam 12 lebih, siang itu kami putuskan untuk singgah ke sebuah masjid yang letaknya tak jauh dari warung tersebut. Saat kami baca tulisan di depan Masjid, ternyata Masjid ini bernama Masjid An Nur Jamil. Lokasinya di Solo atau Surakarta.

Setelah kami melangkahkan kaki di pelataran masjid, ada sedikit hawa yang berbeda. Sebenarnya sama saja seperti saat masuk ke Masjid-masjid yang lain. Hanya saja, mungkin karena kami baru pertama kali masuk ke Masjid tersebut. Setelah melaksanakan sholat, saya (Penulis) melanjutkan membaca Al Qur’an kecil yang senantiasa menemani kemana saja saya pergi. Sesaat setelah saya membaca Al Qur’an tersebut, hati menjadi tenang. Dan seakan-akan semangat saya Full untuk memulai perjalanan jauh ini.

Ada kisah inspiratif dari penggalan perjalanan ini, yaitu dimanapun kita berada, seperti apapun keadaan kita, entah menurut kita mengenakkan atau pahit sekalipun, jangan pernah kita lupa akan satu hal, yaitu sang pencipta. Dan tak terasa kami cukup lama berdiam diri di dalam masjid tersebut. Sesaat kami mendengar suara gaduh dari luar. Lihatlah gambar diatas, Ada beberapa orang berkumpul.

Ternyata ada salah satu jamaah yang kehilangan barang di Masjid tersebut. Dan ada satu orang yang sedang ditanyai, mungkin dia menjadi tersangka dalam kasus ini. Kami hanya mampu mendengar sepintas dari peristiwa tersebut. Kami tidak ingin nimbrung atau ikut campur. Karena sudah ada yang lebih tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut. Kamipun melanjutkan perjalanan kami menuju Jakarta.

Sepanjang jalan, Kami di guyur hujan lebat. Tak kenal putus asa, dengan memakai mantel atau jas hujan kami terus menyusuri jalan menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan saya sendiri khususnya, tidak merasa lelah mengantuk atau bosan. Selalu penuh dengan suka cita.

Padahal secara jujur saya katakan, malam harinya saya tidak tidur semenitpun sebelum menempuh perjalanan ini. Alhamdulillah saya tidak merasakan capek yang berlebih ataupun rasa ngantuk yang teramat sangat. Semuanya terlihat seperti biasa-biasa saja.

Singkat cerita, di Cirebon baru saya merasakan lelah dan memaksa saya untuk beristirahat total. Ngopi, makan, dan Tidur. Di SPBU Cirebon, kami mendapatkan pelayanan yang lumayan mengenakkan bagi kami. Yaitu, adanya tempat untuk tidur dilengkapi dengan ranjang dan tikar seadanya.

Kami melihat motivasi bisnis dari pengalaman kami ini. Yaitu tentang pelayanan prima. Ternyata mereka yang berjualan merasa senang melayani setiap orang yang singgah dari sekedar mengisi bensin. Inilah mengapa saya melihat SPBU dan Tempat beristirahat ini ramai oleh orang-orang yang beristirahat.

Tempat ini ternyata cukup terkenal. Meskipun saya baru saja tau. Seorang ibu-ibu saya tanya, “Bu, berapa biaya sewa tikar?”. Seperti biasa, jika di tempat baru, kami akan selalu bertanya sebelum memakai atau membeli sesuatu. Sekedar mengantisipasi adanya penjual nakal. Bisa saja jika kita tidak tanya, sewa tikar dan semangkuk mie rebus serta segelas kopi dihargai 50ribu. Padahal kita cuma 10 Menit memakainya. Mau tidak mau kita harus membayar, toh kita sudah memakai tikarnya, sudah makan mie rebusnya, dan sudah menghabiskan kopinya. Kewajiban kita adalah membayar. Tapi ibu-ibu tersebut, “Tidak ada uang sewa mas, pakai saja, Ini gratis kok”, Jawab ibu-ibu tersebut.

Karena kami mendapati tempat yang nyaman untuk beristirahat. Saya memberikan uang lebih saat melakukan pembayaran sebelum kami melanjutkan perjalanan. Alhasil, Ibu-ibu tersebut sangat berterima kasih. Point penting yang bisa kita ambil :

“Berikanlah yang terbaik, jangan hiraukan seberapa hasil yang kita dapat. Biar Tuhan yang mengatur rejeki kita. Yang perlu kita lakukan adalah melayani dengan baik. Selebihnya uang akan datang dengan sendirinya.”

Dan saya rasa bukan hanya saya saja yang melakukan hal tersebut. Jika saya memberikan uang lebih 10 ribu, kita anggap ada 10 Orang yang melakukan hal yang sama. Nominalnya adalah 5 Ribu, berarti, hanya dari uang tips saja kita bisa mendapatkan uang 50 Ribu dalam sehari. Belum keuntungan dari setiap dagangan yang laku.

Melihat kondisi jalan di daerah ini tidak pernah sepi dari hilir mudik kendaraan, saya rasa bukan hal yang mustahil untuk mendapatkan keuntungan bersih 50 ribu sehari. Jika ditambah dengan uang tips yang diberikan oleh orang lain, maka kita bisa mendapatkan keuntungan lebih pula.

Singkat cerita, kami melanjutkan perjalanan. Dan pagi itu sekitar pukul 3 kami sampai di kota Cikarang. Singgah sebentar sambil mengenang pahitnya pengalaman hidup saya di kota Cikarang. Mungkin suatu saat nanti saya punya kesempatan untuk menulisnya.

Tapi untuk saat ini saya rasa tidak dulu. Karena saya belum punya cukup pengalaman baik yang untuk dibagi. Biarkan energi positif dulu yang dibagi. Yang negatif kita simpan saja dulu di hati masing-masing.

Melihat sisi-sisi jalan kota Cikarang, saya merasa terharu. Dan akhirnya saya berhenti di sebuah warung kopi. Tak heran jika pagi ini tak banyak orang yang singgah. Warung itu hanya ada 4 orang. Saya, teman saya, satu pembeli, dan satu penjual. Kami ngobrol dalam bahasa Jawa dengan teman saya. Dan sesekali saya ngobrol dengan Bahasa Sunda dengan Pemilik Warung tersebut. Karena pribumi Cikarang menggunakan bahasa Sunda.

Waktu berjalan begitu cepat, akhirnya kami sampai juga di Jakarta. Dan pagi itu sekitar pukul 7 pagi, kami sampai di kota Kebayoran Lama. Dan rasa letih telah terbayarkan sudah. Saya pribadi menyempatkan mengunjungi sebuah pabrik Brownis dan Donat.

Seperti yang kita ketahui, Di Lokasi Peninggaran Barat Kebayoran Lama, banyak sekali produsen roti. Khususnya pembuat roti donat dan brownis. Kami mengamati proses pembuatannya. Dan ternyata cukup mudah. Setelah bertanya dengan pemilik perusahaan, ternyata modal yang perlu di siapkan untuk memulai usaha roti donat lumayan mahal. Maka saya mengkatergorikan Bisnis modal sedang. Karena bisa mencapai angka Seratusan Juta.

Mungkin saya akan membagi tips mendirikan usaha kue donat atau brownis. Pernahkah terpikir dalam benak kalian untuk memiliki usaha yang sama? Yaitu menjadi pengusaha kue kering Brownis atau Kue basah Donat?


☼ Joko Kristanto

Berbagi informasi dan pengalaman seputar wirausaha dan bisnis. Membantu menyalurkan pengalaman meskipun hanya seadanya. Mendirikan paguyuban pelatihan kemandirian secara gratis dibawah naungan Wirasejati Jaya Group. Kami memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai tujuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar