Home » motivasi » Cara Merubah Hinaan Menjadi Sebuah Do’a

cara merubah hinaan, merubah hinaan,

Cara Merubah Hinaan Menjadi Sebuah Do’a

Sahabat Wirasejati, taukah kalian cara merubah hinaan agar bisa menjadi sebuah do’a yang baik bagi diri kita?. Dalam rubrik Motivasi Hidup dan Motivasi Bisnis ini kami akan menceritakan sebuah cerita nyata yang semoga bisa membuat kita bangkit dari keterpurukan. Kisah Inspiratif ini kami kemas khusus bagi kalian yang sering merasa terhina, tertindas, terinjak-injak, tanpa kami mengatakan anda salah atau benar. Dalam kisah ini kami akan mengajak anda untuk berfikir positif pada saat kita dihina orang, dicaci, atau dicemooh oleh orang lain sekalipun kita mempunyai kesalahan.

Cara merubah hinaan menjadi do’a.

Pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang tidak mungkin bisa lepas dari kesalahan. Kalimat inilah yang harus kita garis bawahi dan ambil intinya. Kita harus menyadari dulu bahwa diri kita sendiri tidak lepas dari kesalahan, dan tidak mungkin akan selalu benar.

Ada sebuah kisah nyata dari salah seorang wirausaha, sebut saja Andree. Dia adalah seorang pengusaha yang bergerak dibidang komputer. Beberapa tahun terakhir usahanya maju pesat. Hingga ia boleh disebut sebagai pengusaha muda yang sukses. Namun siapapun dia yang pernah bergelut dengan dunia bisnis pasti pernah merasakan pahit manisnya bisnis. Demikian pula dengan Andree. Usaha yang ia kelola tiba-tiba diterpa goncangan dahsyat.

Sebagian modal usaha yang Andree gunakan untuk merintis usaha adalah dana pinjaman. Dan sebagian besar komputer yang ia kirim ke pelanggan adalah komputer dari Supplier. Maksudnya, Andree bisa mengirim puluhan komputer ke pelanggannya tanpa harus membayar terlebih dahulu. Andree menggunakan perjanjian dengan sistem 1 tahun bayar. Andree hanya akan ditagih dari supplier jika sudah mendekati angka 1 tahun dari setiap pengiriman barang. Saking dekatnya Andree dengan pemilik perusahaan supplier, Andree bisa memesan barang disitu tanpa harus keluar uang sama sekali. Beberapa pemilik perusahaan Supplier dan Distributor telah percaya dengan kinerja Andree.

Singkat kata, Usaha komputer yang dijalani Andree saat itu sudah dirasa aman. Dan Andree ingin mencoba berbisnis dibidang yang lain. Yaitu bisnis properti. Kebetulan salah satu rekan bisnis Andree adalah seorang pembisnis properti yang sukses. Andree mulai belajar dengan temannya tersebut. Semula Andree disuruh mencari rumah di pinggir jalan yang ingin dijual. Dan semua strategi sudah Andree serap dari temannya yang sukses tadi.

Lambat laun, Andree mulai mencampur aduk antara keuangan Bisnis Komputer dan keuangan Bisnis Properti yang dijalaninya. Andree mulai berani menggunakan uang Komputer untuk berbisnis properti. Dan petaka tersebut terjadi. Andree tertipu saat ingin membeli sebuah properti. Hampir semua uang komputer telah ia gunakan untuk berbisnis properti. Sebenarnya kata tertipu pada paragraf ini mungkin terlalu kasar, tapi kata inilah yang paling tepat dalam menggambarkan apa yang Andree alami pada saat itu. Dan petaka ini membawa ceritanya sendiri.

Sebulan dua bulan berlalu, keuangan Andree yang mulai kocar-kacir tercium oleh Supplier komputer yang bekerja sama dengan perusahaan Andree. Satu tagihan kecil dari supllier kepada Andree, namun Andree tidak bisa membayar karena uangnya memang sudah tidak tau kemana. Tagihan yang lain dari distributor juga sama. Bulan demi bulan berjalan, Andree tetap tidak bisa membayar sebagian besar hutangnya kepada para Supplier komputer. Semangat Andree dalam berbisnis mulai goyah, tekanan demi tekanan ia rasakan semakin besar semakin menghimpit. Andree mulai tidak bergairah, sehingga Andree seperti tidak bisa memasarkan komputer lagi.

Bulan demi bulan sudha berjalan, para supplier dan distributor sudah mulai kehilangan kesabaran. Mereka terus menekan Andree agar melunasi pembayaran komputer yang sudah jatuh tempo. Namun, karena sudah akrab dan sudah dipercaya, para supplier masih bersikap halus, sopan, dan memahami bahwa usaha Andree sedang lesu. Saat usaha komputernya mulai lesu, Andree tak lagi bisa memasarkan barang, Andree juga sudah tidak lagi mendapat pemasukan dari pelanggan, karena sebagian besar pelanggan telah membayar lunas kepada Andree. Dan saat uang ada ditangan, Andree menggunakan uang tersebut untuk kepentingan yang lain.

Saat mulai berjalan 5 Bulan dari goncangan pertama, Goncangan ke dua mulai muncul. Untuk mendapatkan modal tambahan, Andree sempat mengajak join atau mengajak beberapa orang untuk bergabung dengan usahanya. Orang-orang tersebut cukup memberikan modal kepada Andree, saat ada keuntungan penjualan komputer, maka hasilnya akan dibagi. Karena dirasa sudah lama tidak menghasilkan, orang-orang yang semula bergabung dengan Andree mulai mundur. Dan mereka meminta kepada Andree untuk mengembalikan uang yang pernah mereka setorkan. Belum juga masalah tagihan supplier dan distributor teratasi, sekarang ditambah di tagih oleh orang-orang yang sempat join dengan usahanya. Ternyata tidak hanya berhenti disitu.

Dulu sebelum Andree mendirikan usaha komputer, Andree sempat meminjam uang kepada beberapa saudara dan teman-temannya. Meskipun jumlahnya tidak terlalu besar bagi Andree, tapi jika dalam kondisi terpuruk seperti ini, berapapun nilai uang itu, akan terlihat begitu besar bagi Andree. Ternyata benar, beberapa saudara mulai menanyakan uang mereka. Beberapa teman mulai menagih uang yang seharusnya sudah dikembalikan. Saat saudara atau teman-temannya menagih uang mereka, jawaban Andree hanya, “Belum bisa sekarang, nunggu pelanggan melunasi pembayaran dulu”. Padahal, disaat itu Andree sudah tidak mempunyai pelanggan. Semua orang yang pernah ikut bekerja kepada Andree telah keluar. Beberapa partner bisnis mulai menjauh. Andree hanya sendirian menghadapi badai gelombang ini.

Mendekati 7 bulan dari awal permasalahan, Andree mendekati titik mati suri. Mati suri ini hanyalah istilah untuk menggambarkan betapa terpuruknya Andree hingga ia merasa bahwa dia seperti orang yang telah mati.

Pagi itu, beberapa debt collector datang kerumah Andree. Ternyata mereka adalah para penagih yang dikirim oleh supplier komputer yang biasa membantu Andree dalam berbisnis. Andree masih mempunyai hutang yang sangat besar. Andree mulai terpojok dan semakin tak punya semangat hidup. Beberapa jam kemudian datang seorang petugas dari salah satu badan usaha yang bergerak dalam bidang permodalan bisnis menanyakan kesanggupan Andree mengembalikan modal yang pernah dipinjam.

Ruang gerak Andree semakin menyempit. Beberapa bulan yang lalu, Andree sempat meminjam uang ke salah satu temannya dalam hitungan puluhan juta. Kala itu Andree ingin menyelamatkan usahanya. Naas, Andree semakin terperosok. Tak hanya pinjam ke teman, Andree juga menggadaikan 1 motor saudaranya dan 1 motor teman baiknya. Semua cara telah Andree tempuh untuk menyelamatkan usaha yang telah sempat membawanya kepada era Eksekutif Muda. Karena sudah mempunyai catatan buruk di Bank, Andree sudah tidak bisa lagi melakukan pengajuan pinjaman ke pihak Bank. Untuk bertahan hidup dan menyelesaikan beberapa urusannya, Andree memberanikan diri meminjam uang kepada seorang rentenir. Tidak besar, tapi cukup untuk menyelesaikan beberapa urusan yang harus ia selesaikan pada waktu itu. Andree menggunakan sertifikat rumahnya sebagai jaminan meminjam uang kepada rentenir tersebut. Dengan perjanjian satu bulan lunas.

Permasalahan yang Andree hadapi semakin mencapai titik puncaknya. Belum genap satu bulan Andree meminjam uang ke rentenir, Satu buah mobil dari supplier datang ingin mengambil sisa-sisa barang yang ada di tempat Andree. Sisa-sisa barang yang ada disitu tidak ada harganya sama sekali. Meskipun pihak supplier tau bahwa barang itu tidak ada harganya, tapi pihak supplier tetap mengambil barang-barang tersebut. Supplier ingin menunjukkan keseriusannya dalam menagih.

Andree masih mempunyai harapan, karena sebagian pelanggan masih menyisakan hutang kepada Andree. Tapi sayangnya, Pelanggan Andree yang masih menyisakan hutang pembayaran juga orang-orang yang sedang mengalami nasib buruk yang seperti Andree alami. Setiap Andree menagih kepada mereka, mereka juga tidak bisa membayar uang yang seharusnya dibayar. Seandainya ada pelanggan yang mencicil hutang, Andree hanya bisa menggunakan uang tersebut untuk bertahan hidup dan menghidupi anak istrinya.

Pada hari itu, bertepatan dengan hari senin, satu mobil parkir di depan rumah Andree. Ternyata dia dari bagian penarikan barang yang di utus oleh salah satu supplier komputer. Mau tidak mau, Supplier ingin menarik semua barang yang masih dalam masalah pembayaran. Andree mencoba untuk melakukan negosiasi, hasilnya tetap nihil. Komputer harus ditarik hari itu juga atau kasus ini di ajukan ke persidangan. Akhirnya Andree menyanggupi untuk menarik beberapa unit komputer. Namun Andree hanya bisa berjanji hanya bisa menarik komputer dari pelanggannya yang bermasalah. Untuk komputer yang sudah lunas dari pelanggan meskipun uangnya belum di serahkan ke supplier, Andree tidak menyanggupi untuk menarik barang-barang tersebut. Dan hari itu, terkumpul paling tidak satu mobil penuh dengan komputer sitaan.

Urusan dengan Supplier tidak serta merta selesai. Ternyata, supplier hanya menghargai komputer yang disita tersebut hanya separuh harga. Jika 100 komputer dulu waktu masih baru dihargai 200 juta, sekarang hanya dihargai 100 juta saja. Ini artinya, meskipun komputer sudah ditarik, Andree masih mempunyai hutang yang harus di bayar sebesar 100 juta. Belum sisa-sisa hutang yang lain. Dan hari itu juga Andree di panggil direksi perusahaan supplier untuk membicarakan jalan keluar dari permasalahan ini. Andree diancam akan diajukan ke persidangan jika tidak menyanggupi penyelesaian sisa hutang. Andree tercengang dan tak tau harus bagaimana. Andree teringat akan anaknya yang masih kecil. Andree mencoba menyemangati dirinya sendiri. Dan akhirnya Andree menanda tangani sebuah surat perjanjian diatas materai yang menyatakan bahwa Andree sanggup membayar sisa hutang disertai tanggal jatuh tempo pembayaran. Jika melewati hari jatuh tempo hutang belum juga terbayarkan, maka Andree akan mendapatkan denda dengan jumlah tertentu disetiap bulannya. Andree tidak ambil pusing, Andree menyetujui dengan keadaan sadar dan sesadar-sadarnya. Dengan catatan, Jika Andree benar-benar tidak bisa menyelesaikan hutang, Supplier tidak mempunyai hak menyita barang dari pelanggan Andree yang sudah dinyatakan lunas pembayaran kepada Andree. Jika permintaan Andree tidak disepakati oleh pihak supplier, maka Andree siap jika harus mempertanggung jawabkan masalahnya di persidangan.

Seperti halnya sebuah puncak tragedi, baru saja mencari solusi dengan pihak supplier, datang seorang petugas dari pegadaian untuk menanyakan sisa angsuran motor yang belum di penuhi Andree. Waktu itu Andree sempat menggadaikan motor dari salah satu saudara dan salah satu temannya. Ternyata orang yang datang tersebut adalah orang dari penarikan barang jaminan. Orang tersebut memberikan waktu kepada Andree untuk melunasi sisa angsurang dalam waktu satu minggu. Jika tidak maka barang jaminan akan di tarik atau disita untuk dilelang. Beban Andree semakin berat. Seorang teman marah-marah karena dirumahnya didatangi petugas pegadaian untuk menyita motor yang dipinjam Andree sebagai barang jaminan. Setelah menjelaskan duduk permasalahannya, Teman Andree memutuskan untuk menebus sendiri motor yang di gunakan Andree untuk mencari pinjaman. Karena teman Andree juga merasa bahwa Andree sudah tidak mungkin lagi bisa membayar angsuran perbulannya. Tapi tidak dengan motor saudaranya. Kala itu Andree mendatangi rumah saudaranya untuk membicarakan permasalahan peringatan penarikan barang jaminan. Andree secara jujur mengatakan bahwa angsurannya telat 3 bulan. Jika dalam seminggu tidak bisa melunasi angsuran, maka motor akan di sita. Ternyata jawaban sinis di dapatkan oleh Andree, saudaranya mengatakan kepada Andree. Bahwa urusan setoran itu tanggung jawab Andree, dia tidak mau tau yang penting motor dia aman. Andree mencoba untuk meminjam uang kepada saudaranya tersebut agar motor tidak disita. Tapi saudaranya mengatakan, “Itu urusan kamu, seandainya motor ditarik, ya biar ditarik saja. Toh ada yang ngurusin ini”. Mendengar jawaban sinis dari saudaranya tersebut, bukan solusi yang Andree dapat, melainkan sikap apatis yang justru memojokkan Andree yang hampir tak berdaya ini.

Dalam seminggu Andree mencari solusi agar bisa melunasi sisa angsuran motor milik saudara yang digadaikannya. Tidak beruntung, Andree hanya mendapati jalan buntu. Dan saat Andree sedang berada di rumah mertua, Andree ditelfon oleh saudaranya tersebut bahwa motor sudah disita oleh pihak pegadaian. Pemilik motor yang ditarik yang kebetulan masih saudara dengan Andree itu marah besar karena motornya telah ditarik. Andree hanya bisa diam mendengarkan setiap caci maki hinaan yang keluar dari mulut saudaranya tersebut. Karena Andree merasa bahwa dia bersalah dalam situasi ini. Tanpa pikir panjang Andree pulang dari rumah mertua dan menuju ke rumah saudaranya. Sesampai di rumah saudaranya, raut muka marah sudah menyambut kedatangan Andree. Andree hanya bisa pasrah. Mereka berunding tentang jalan keluarnya. Saudaranya mengatakan kepada Andree jika dalam 5 hari tidak ada pelunasan, maka motor akan dilelang. Andree mengatakan kepada saudaranya bahwa Andree tidak sanggup jika harus mencari sisa pelunasan hutang motor jika hanya 5 hari. Andree mengatakan kepada saudaranya tersebut, “Jika saya benar-benar tidak bisa menebus motor, dan motor secara resmi menjadi milik pegadaian, maka anggap saja saya punya hutang satu motor sama kamu”. Inilah yang Andree ucapkan kepada saudaranya. Tapi lagi-lagi bukan solusi yang Andree dapat, melainkan sikap apatis lagi. Saudaranya langsung keluar tidak menggubris omongan Andree.

Malam harinya, sebuah kejadian yang sangat membuat Andree hampir meneteskan air mata. Seorang teman datang menemui Andree. Dia menanyakan keadaan Andree. Tak lama dari basa basi yang ia lontarkan, teman Andree memberikan info bahwa sudah tersebar SMS ke hampir seluruh penduduk kampung. SMS itu berisi peringatan kepada seluruh warga kampung untuk hati-hati dengan Andree dan menceritakan tentang masalah hutang antara Andree dan saudaranya. Ternyata SMS tersebut dikirim oleh saudaranya sendiri yang mana motornya telah disita siang tadi. Andree benar-benar tidak menyangka kalau saudaranya tega menyebarkan sms seperti itu. Ajaran agama yang menyatakan untuk saling menutup aib saudara yang lain ternyata tidak berlaku. Semua aib Andree diceritakan dari mulut kemulut oleh saudaranya sendiri. Bahkan salah satu guru mengaji tempat Andree menimba ilmu juga didatangi oleh saudaranya. Kejadian itu diketahui Andree saat Andree di undang oleh guru mengajinya. Di tempat guru mengajinya tersebut, Gurunya bercerita bahwa telah datang 2 orang kepada beliau mengatakan untuk berhati-hati dengan Andree. Orang tersebut memperingatkan guru Andree agar tidak memberikan pinjaman apapun jika Andree ingin meminjam uang. Mendengar gurunya bercerita seperti ini, Andree semakin merasa hina. Namun gurunya mencoba menasehati agar tidak marah tidak pesimis, dan selalu bertawakal. Andree hanya bisa pasrah saat kejadian itu menimpanya. Gurunya hanya melakukan tabayun, yaitu mencari sebuah kebenaran dari sebuah cerita. Dan Andree tidak menyalahkan saudaranya yang tega menceritakan keburukannya didepan gurunya sendiri. Andree tidak marah kepada saudaranya meskipun saudaranya telah menjelek-jelekkan dirinya dimana-mana, karena Andree mengakui semua kesalahan yang telah diperbuatnya. Seandainya Andree bisa melunasi pinjaman motor, maka motor tidak akan ditarik. Jika motor tidak ditarik, pasti saudaranya tidak akan menceritakan keburukan Andree dimana-mana. Karena merasa bersalah, Andree hanya bisa pasrah tanpa merasa didzalimi.

Tidak hanya berhenti disitu saja, efek penyebaran sms mulai terasa. Silih berganti orang-orang yang mempunyai masalah dengan Andree mendatangi Andree. Termasuk salah satu teman yang dulu meminjaminya modal dalam usaha, mulai menagih uang tersebut. Hampir semua hutang Andree ditagih secara beruntun.

Pagi itu datang seorang rentenir untuk menagih hutang Andree yang beberapa waktu yang lalu dipinjamnya. Semula dengan nada yang sopan. Namun, saat mendengar jawaban Andree yang belum mampu melunasi hutang, rentenir tersebut mencaci maki Andree dengan sebusuk-busuknya makian. Andree hanya bisa pasrah menerima kejadian yang menimpa dirinya. Pada saat itu, semua yang dipunyai Andree sudah dijualnya untuk melunasi hutang. Kecuali rumah, satu buah laptop, dan beberapa perhiasan mas kawin milik istrinya. Karena rumah yang ditempatinya bukanlah rumah Andree sendiri, merupakan rumah peninggalan orang tuanya yang telah meninggal. Motor, komputer, handphone, semua telah dijualnya. Kini Andree telah sah dinyatakan bangkrut dengan beban hutang dimana-mana.

Setelah rentenir tersebut pulang, Andree melihat istrinya menangis. Ternyata istrinya tak tega melihat suaminya dicaci maki dibentak-bentak oleh rentenir tersebut. Sambil mendekap anaknya yang masih kecil, Andree mencoba tetap tersenyum mencoba tegar menyembunyikan kerapuhannya. Keesokan harinya, demi kebaikan anak dan istrinya, Andree mengantarkan istri dan anaknya ke rumah mertua, untuk sementara Andree menyarankan kepada anak dan istrinya untuk tinggal bersama mertua sampai keadaan kondusif.

Ternyata benar, setelah Andree pulang dari rumah mertua, telah menunggu beberapa orang yang sebenarnya mereka adalah teman-teman lamanya. Mereka datang untuk menagih hutang. Jawaban Andree telap sama. Andree meminta maaf karena belum bisa melunasi hutang tersebut. Dan mereka pulang dengan sedikit kesal. Karena kedatangannya tidak menghasilkan apa-apa.

Kini Andree seperti terkucil di lingkungannya sendiri. Orang-orang kampung telah terbius oleh sms dan cemoohan saudaranya sendiri. Teman-teman yang dulu dekat sekarang mulai menjauh karena saling menjaga jarak. Disaat itu, Andree seperti sebuah borok yaitu sebuah penyakit menular yang mana tak ada satu orangpun yang mendekat karena mereka takut tertular.

Tak hanya dikehidupan nyata, di facebook, cacian demi cacian juga terlontar secara terang-terangan atau secara sindiran halus. Bahkan ada satu orang teman yang mengatakan bahwa Andree adalah seorang penipu. Dan dia juga memperingatkan teman-teman yang lain agar berhati-hati dengan Andree. Nada yang sama seperti sms yang disebarkan oleh saudaranya keseluruh kampung. Dan meminta setiap orang yang menerima sms tersebut untuk menyebarkan sms kepada orang lain. Andree ternyata memiliki alasan tersendiri mengapa dia tidak menutup atau menonaktifkan akun facebooknya. Ternyata Andree mempunyai prinsip tidak akan lari dari permasalahan. Semua masalah yang ia timbulkan oleh kesengajaan, atau bahkan oleh kelalaiannya, maka dia harus menghadapi masalah tersebut dengan gagah berani takkan mundur menghindar bersembunyi walau sejengkalpun.

Melihat ada teman yang berkomentar atau membuat status yang menghina Andree secara terang-terangan, Andree tidak pernah menghapus komentar hinaan itu. Andree tetap membiarkannya, bahkan tetap membiarkan siapa saja membacanya. Bagi dia, ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Andree mempersilakan siapa saja yang ingin menghina dia, ingin menjatuhkan dia, atau ingin sekedar bersimpati kepadanya. Semua bebas meluapkan seluruh hati mereka. Sakit memang sakit saat Andree membaca sebuah komentar yang isinya adalah sebuah caci maki yang di kirim oleh sahabatnya sendiri. Tapi apa boleh buat, inilah kenyataan yang ada. Mau lari kemanapun, masalah ini akan tetap ada dan takkan pernah ada penyelesaiannya jika tidak dihadapi.

Suatu hari, ada sebuah berita menghebohkan yang membuat Andree benar-benar tak habis pikir. Beberapa hari setelah Andree mengantarkan anak dan istrinya untuk tinggal di rumah mertua, ternyata tersebar kabar bahwa Andree ribut dengan istrinya. Bahkan tersebar kabar bahwa Andree ribut dengan mertuanya. Sehingga seolah-olah Andree benar-benar tak habis pikir. Sebusuk inikah Andree dimata mereka?. Andree mencoba mengkoreksi diri, mencoba bersabar dari setiap kepahitan hidup yang sedang menimpanya.

Keesokan harinya, Andree mendatangi rumah mertuanya. Dengan meminjam motor milik tetangga yang masih peduli dengan keadaan Andree, Andree sampai juga ditempat mertua dan bertemu dengan anak istrinya. Sesaat setelah bercakap-cakap serius, Andree berbicara kepada istrinya. “Dik…” Panggilan Andree kepada istrinya. “Dik, kita sudah tidak punya apa-apa yang bisa kita andalkan untuk melunasi hutang. Sekarang aku pasrah dengan segala yang menimpa. Jika memang kamu tidak kuat atau malu dengan keadaanku, kamu boleh memilih meninggalkan aku”. Andree menanyakan hal ini kepada istrinya. Istrinya justru menangis mendengar ucapan Andree. Sambil terisak, istrinya menjawab bahwa dia masih tetap ingin bersama Andree dalam setiap keadaan yang menimpanya. Mendengar jawaban dari istrinya tersebut, Andree seperti mendapatkan sebuah semangat baru. Lalu Andree menawarkan kepada istrinya.

“Dik, dulu aku pernah berjanji tidak akan menjual semua mas kawin yang pernah aku berikan. Namun, untuk saat ini, hanya ini yang kita punya. Aku tetap berusaha tidak akan menjual mas kawin ini. Bagaimana kalau kita mensodaQohkan ke yatim piatu harta yang paling kita sayangi ini?. Semoga Allah memberikan jalan keluar yang baik dari permasalahan yang kita hadapi ini.”

Mendengar penawaran suaminya yang mempunyai niat untuk mensodaQohkan mas kawin tersebut, istrinya langsung mengiyakan. Dan Andree menyampaikan bahwa niat sodaQoh ini harus dari hati istrinya, karena pemilik harta yang akan disodaqohkan adalah istrinya bukan Andree. Dan siang itu pula, Andree bersama anak dan istrinya mendatangi sebuah pondok pesantren Walisongo yang terletak dikota Sragen. Dan dipondok tersebut diserahkannya harta yang tersisa ini agar lebih bermanfaat dengan harapan pertolongan Allah. Setelah menyerahkan kalung, cincin, dan gelang dengan keikhlasan istrinya, Andree pulang bersama anak istrinya menuju rumah mertua. Lalu istri dan anaknya tetap tinggal dirumah mertua dan Andree berpamitan kepada anak istri dan mertua untuk pulang kerumahnya sendiri.

Tapi seminggu setelah proses sodaQoh tersebut, ujian masih tetap menimpa Andree. Saat itu istri Andree ditanya oleh ibunya kemana emas yang biasa dikenakannya. Istri Andree menjawab pertanyaan sang ibu dengan jujur bahwa emas yang biasanya ia pakai sudah disodaqohkan  ke pondok pesantren. Ternyata berita tersebut sampai disalah satu orang di tempat mertua Andree tinggal. Sang istri di introgasi mengenai sodaqoh yang telah diberikan ke pihak pondok tersebut.

Setelah di interogasi, lalu Istri Andree menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada suaminya melalui telefon. Istri Andree mengatakan bahwa Shodaqoh tersebut tidak sampai atau dalam kata lain sodaqoh tersebut telah diselewengkan. Dan Andree telah di tuduh bekerja sama dengan pihak pondok telah main mata untuk mengambil harta sang istri. Semula Andree tidak menggubris masalah ini. Tapi karena berita ini semakin menyebar, dan ini menyangkut nama baik pondok dan pengurus didalamnya, Andree memutuskan untuk betabayun atau mencari kejelasan tentang duduk permasalahan yang sebenarnya. Andree mendatangi pihak pondok dan menceritakan tentang kejadian yang baru saja dialami istrinya. Meskipun sebenarnya tidaklah pantas menanyakan sebuah harta yang secara ikhlas telah diserahkan kepada orang lain, akan tetapi Andree harus melakukan cara ini agar bisa menjelaskan ke semua pihak terlebih kepada orang yang berprasangka buruk kepada Andree dan pondok. Setelah mendapatkan jawaban dari pihak pondok, bahwa sodaqoh itu benar-benar sudah diterima, Andree-pun senang dengan jawaban tersebut. Pada malam harinya, Andree datang ke tempat mertuanya, dan mendatangi orang yang telah menuduh Andree main mata dengan pihak pondok. Agar berita miring tentang Andree sekeluarga dengan pihak pondok tidak menyebar membabi buta. Tapi ternyata kedatangan Andree disambut panas oleh orang tersebut. Seharusnya Andree yang marah dalam situasi ini, mengapa orang tersebut ikut campur dengan urusan sodaqoh orang lain, dan merasa sok tau tentang seluk beluk pondok. Dan Andree sempat ditantang berkelahi oleh orang tersebut. Tapi karena maksud Andree adalah baik, ingin bertabayun tentang duduk masalah yang sebenarnya, maka Andree tidak meladeni tantangan tersebut. Di satu sisi, Andree adalah pendatang, dan disisi lain, Andree merasa dia lebih muda dibandingkan orang tersebut. Sangat memalukan jika Andree sampai ribut di tempat itu. Akhirnya, Andree memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini. Soal tuduhan ini itu tentang dirinya dan keluarganya, Andree serahkan semua urusan kepada Allah yang maha tau dan maha bijaksana. Dan beberapa hari kemudian, Andree mengajak pulang anak dan istrinya kembali kerumah Andree dengan penuh pengharapan dan rasa pasrah. Setelah meminta do’a restu dari mertua, Andree beserta keluarga berpamitan dan pulang dengan perasaan yang lebih tenang.

Hari berganti bulan berlalu, Andree masih terkucilkan dilingkungannya sendiri. Sahabat, teman, saudara, tetangga, hampir semuanya menjaga jarak dengan Andree. Namun Andree tetap tegar dan bersikap profesional menyikapi dilematika hidup ini. Sedikitpun tidak ada niat untuk membalas semua perlakuan buruk yang dilakukan orang lain kepada dirinya. Andree tetap pada pendiriannya, bahwa tidak ada makhluk yang bisa lepas dari kesalahan, termasuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Jika dirinya sendiri melakukan kesalahan, maka kewajibannya adalah memperbaiki kesalahan tersebut agar tidak terulang lagi. Jika dia disakiti oleh orang lain, kewajibannya adalah membalas rasa sakit hati itu dengan perbuatan yang lebih baik. Sebab, jika Andree membalas perlakuan buruk mereka, ini artinya Andree sama saja dengan mereka. Di dalam keseharian Andree, Andree hanya fokus untuk menyelesaikan masalah hutang piutang yang tengah menimpanya. Andree tidak ingin mengisi pikirannya hanya untuk memikirkan rasa sakit hati yang ia rasakan. Andree memaksa dan mengoptimalkan diri untuk melakukan yang terbaik yang masih bisa dia lakukan. Soal urusan orang lain yang telah menghina dan menghujatnya entah di kehidupan nyata atau di dunia maya jejaring sosial, Andree menyikapinya sebagai penyemangat hidup. Dimana malam bisa berganti siang, siang pun bisa berganti malam. Demikian pula dengan orang, Andree yang sempat merasakan mudahnya mencari rejeki, sekarang jatuh miskin. Maka bisa saja hari ini Andree miskin esok atau lusa bisa kembali bangkit dengan kesuksesan yang nyata. Begitu pula dengan orang lain, mereka yang dulu dekat saat Andree jaya, bisa saja hari ini menjadi musuh dalam selimut. Dulu saudara yang saling bertukar sapa, bahu membahu, bisa saja sekarang menjadi orang yang menggunting dalam lipatan. Maka bisa saja orang yang saat ini membenci Andree esok atau lusa menjadi sahabat bahkan saudara. Seperti yang terkutip dalam penggalan surah Al BaQoroh ayat 216, “ALLAH TAU SEDANG KITA TIDAK”.

Meskipun masih dalam lilitan hutang, Andree masih bisa tetap tersenyum, tetap bahagia bersama anak istrinya. Dan sesekali sedikit pusing menghadapi perjalanan hidup yang memang sedikit berat, tapi Andree tetap mencoba tetap bersyukur dalam segala keadaan. Andree teringat pesan dari salah satu gurunya yang sempat menasehati dirinya. Guru itu menyampaikan,

“Jika ada satu orang yang kaya raya tapi dia lumpuh, maukah kamu bertukar posisi dengan dirinya?. Dia orang yang lumpuh akan melunasi semua hutang-hutang kamu, dan masalah hutang piutangmu dengan orang lain selesai, tapi kamu harus bersedia menjadi orang yang lumpuh. Satu sisi masalahmu selesai, dan disisi lain, masalah orang yang melunasi hutang-hutangmu juga selesai. Kamu pilih mana?. Hutang kamu selesai tapi lumpuh, atau tetap sehat bisa kemana-mana tapi dengan belitan masalah yang sedang kamu jalani.”

Mendengar pertanyaan dari gurunya, Andree mulai terbuka titik terang dalam hidupnya, ternyata masih banyak ujian hidup yang lebih berat dari dirinya. Perlahan-lahan, Andree mulai melupakan kepahitah hidupnya, melupakan semua rasa sakit hati yang ia rasakan selama ini. Melupakan perlakuan buruk yang pernah ia rasakan. Dalam benak Andree saat itu hanya ingin lebih mendekatkan diri dengan sang pemilik alam semesta. Berkonsentrasi pada pekerjaan. Melakukan yang terbaik yang masih bisa ia lakukan. Soal rejeki, soal jalan keluar dari permasalahan ini, sepenuhnya diserahkannya kepada Allah ta’ala. Andree hanya ingin melakukan yang terbaik, soal apa yang terjadi nanti, Allah lebih tau dan maha bijaksana.

Setelah Andree mengikhlaskan semua kejadian buruk yang menimpa dirinya, dari hinaan, cacian, terkucilkan dari lingkungannya sendiri, terfitnah, terasingkan, Andree menemukan sebuah ketenangan hidup yang tak terkira nikmatnya. Setiap ada orang yang masih menghinanya, Andree menjawab dalam hati, “Semoga Allah mengganti rasa sakit ini dengan sebaik-baiknya balasan. Dan semoga kebaikan menyertai orang-orang yang menjauhi sifat munkar”. Sepenuhnya Andree tidak lagi merasakan terhina meskipun orang lain menghinanya. Saat ada teman mencacinya di dunia maya, Andree tetap menjawab dengan sebaik-baiknya jawaban dan mendo’akan mereka supaya tidak mengalami kepahitan hidup yang seperti Andree alami. Hari berganti waktu berlalu, canda meskipun masalah hutang piutang itu belum terselesaikan, namun ada ketenangan hidup yang Andree rasakan disaat itu. Andree tetap bisa tersenyum bercanda dengan anak istri. Tetap ada rejeki Allah untuk sekedar makan anak istrinya. Selalu ada pertolongan Allah dari segala arah.

Lambat laun, satu persatu orang yang dulu menghindar mulai lagi mendekat. Orang yang dulu memfitnah, mulai menuai hasil perbuatannya. Orang yang dulu menghina mulai diam. Rentenir yang dulu marah-marah, sekarang seperti seorang sahabat yang selalu memotivasi Andree agar segera bangkit. Lalu ada sebuah pertanyaan dari seorang teman yang bernada ketus kasar tidak enak di dengar tapi mengandung nilai positif. Teman itu menanyakan kepada Andree, “Bagaimana kalau nanti kamu mati sebelum menyelesaikan masalahmu dengan orang lain?”. Lalu Andree menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas. “Hidup dan mati hanya Allah yang kuasa. Kewajibanku adalah berusaha. Jika memang aku belum mampu menyelesaikan masalahku, seperti masalah hutang, kewajibanku selain berusaha untuk tetap melunasinya adalah meminta maaf kepada mereka karena aku belum bisa mengembalikan. Dan mendo’akan supaya rejeki mereka lancar dan diberikan kesabaran. Jika memang aku mati dengan masalah yang belum terselesaikan, Maka InsyaAllah aku mati dalam rangka menyelesaikan masalah, bukan mati dalam keadaan lari dari masalah”.

Memang demikian adanya, Andree tidak pernah sedikitpun punya niat untuk lari dari masalah yang ia hadapi. Dia tetap dirumahnya, menyambut baik siapa saja yang datang kerumahnya sekalipun mereka hanya datang untuk menagih hutang. Andree tetap fokus dengan pekerjaannya. Mengisi waktunya dengan kegiatan positif. Dan tetap menjalani takdir Tuhan dengan mencoba tetap selalu bersyukur dengan segala yang diberikan-Nya. Tak terasa, tahun berganti tahun. Jalan keluar dari permasalahan Andree terbuka satu persatu. Selalu ada harapan dan selalu ada jalan dari setiap permasalahan yang ada. Dan Andree hanya ingin mewujudkan harapan yang ada. Dengan melakukan yang terbaik, maka tidak ada tempat untuk memikirkan keburukan orang lain. Tidak ada waktu untuk mengenang rasa sakit hati yang dialaminya. Dialah Allah yang menguasai alam semesta yang mampu mengubah siang menjadi malam, dan mengubah malam menjadi siang. Dialah Allah yang mempunyai rejeki tak terbatas. Dan hanya Allah yang mampu merubah seseorang yang kaya menjadi miskin dan yang miskin menjadi kaya. Bukan manusia yang menentukan hina atau mulia kedudukan manusia tersebut. Melainkan Allahlah yang lebih tau siapa yang sebenarnya hina dan siapa yang sebenarnya mulia. Dimata Allah semua adalah kebenaran yang nyata. Dan apapun yang dimata manusia, bukanlah kebenaran yang hakiki. Jangan takut dan jangan berkecil hati saat dihina atau dicaci, karena belum tentu kita hina dimata sang pencipta. Jangan pernah merasa mampu lalu kita seolah-olah punya kekuatan untuk menjatuhkan orang lain. Allah yang lebih mampu menjatuhkan atau mengangkat derajat seseorang. Boleh jadi hari ini kita di atas, esok kita dibawah, boleh jadi pula hari ini kita dibawah esok diatas. Dialah Allah yang memiliki kekuasaan yang nyata. Dan kita hanya makhluk yang dipinjami kekuatan tersebut untuk tetap berbuat baik dan memanfaatkan dengan baik waktu yang telah diberikan-Nya kepada kita. Cari semua kesalahan pada diri sendiri, bertaubat dan perbaiki kesalahan tersebut. Jangan menghindar dari permasalahan. Jangan menjadi pengecut. Jangan mencari kambing hitam mencari-cari kesalahan orang lain untuk mencari keselamatan diri. Sejatinya, hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita bukan manusia. Jangan mendoakan keburukan kepada orang lain sekalipun orang tersebut berbuat buruk kepada kita. Kewajiban kita adalah berbuat baik dan memaafkan. Soal apa yang telah mereka lakukan kepada kita, itu urusan mereka dengan Allah. Yakinlah bahwa Allah tetap melihat apa yang nampak dan apa yang kita sembunyikan. Allah tetap melihat yang orang lain lakukan terhadap kita, baik itu yang nampak maupun yang mereka sembunyikan. Allah maha melihat lagi maha mendengar. Jika kita sedang dibawah, tetap bersyukur kepada sang pencipta, karena kita tidak pernah tau apa rencana Allah dari setiap perjalanan hidup kita. Allah tau sedang kita tidak.


☼ Joko Kristanto

Berbagi informasi dan pengalaman seputar wirausaha dan bisnis. Membantu menyalurkan pengalaman meskipun hanya seadanya. Mendirikan paguyuban pelatihan kemandirian secara gratis dibawah naungan Wirasejati Jaya Group. Kami memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai tujuan ini.

2 komentar

  1. Kisah andre..sedikit banyak sama spt yg saya alami saat ini.usaha saya bangkrut.habis semua tak bersisa.hutang menumpuk dimana mana…pasrah dan tetap semangat menjalani hidup yg bs saya lakukan..terima kasih tulisan nya mmberikan satu motivasi buat saya..semoga kita semua sllu dalam lindungan allah swt amiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar