Home » bisnis » 5 Kesalahan Berbisnis Properti

bisnis properti, kesalahan berbisnis properti

5 Kesalahan Berbisnis Properti

Kesalahan berbisnis properti ini kami rangkum dalam rangka berbagi pengalaman seputar bisnis sebagai ladang investasi ini. Kami akan menguraikan beberapa kesalahan yang biasa dilakukan yang sering mengantar seorang pembisnis properti menuju kegagalan atau kebangkrutan. Semoga dengan sedikit uraian ini dapat menjadi pengalaman tersendiri bagi anda yang baru ingin memulai bisnis properti.

Kesalahan Berbisnis Properti – Terlalu Berambisi

Kesalahan berbisnis properti yang pertama adalah tentang ambisi. Seperti yang kami sampaikan dalam artikel yang lain, untuk berbisnis properti kita harus mampu menahan emosi kita sendiri. Terlebih bagi kita yang mempunyai modal tidak terlalu besar. Kita harus cermat dalam membaca harga. Jika memang tidak memungkinkan, kita harus menahan diri.

Seseorang yang lepas kontrol dalam melalukan bisnis properti, cenderung lebih lambat dalam berkembang, bahkan bisa merugi. Seperti contoh, ada sebuah rumah di jual dengan harga 1 Milyar. Padahal harga pasaran yang sebenarnya adalah 500 Juta. Karena kita merasa memiliki uang dalam jumlah 1 Milyar, tanpa memikirkan harga pasaran, kita beranikan membeli properti tersebut. Dan kita akan memerlukan waktu extra untuk mengembalikan modal.

Sebut saja kita berhasil menjual dengan harga yang sama dalam kurun 10 Tahun, ini artinya kita telah rugi. Karena itulah, dalam berbisnis properti bukan hanya bagaimana kita mendapatkan properti, melainkan bagaimana kita mempertimbangkan kembali harga jual di waktu yang dekat.

Kesalahan Berbisnis Properti – Salah mentaksir harga

Berbeda halnya dengan poin yang kami sampaikan sebelumnya. Kesalahan berbisnis properti kedua adalah tentang taksiran harga. Jika di poin pertama kami menyampaikan jiwa yang terlalu berambisi, di poin ini kami akan menyampaikan ketidak mampuan seseorang dalam menghitung harga sebuah properti.

Sebut saja sebuah rumah dengan luas 200 meter, dengan bangunan 3 lantai. Di jual dengan harga 1 Milyar. Harga pasaran yang sebenarnya adalah 500 Juta, karena kita salah dalam menghitung harga tanah dan bangunan, kita menganggap harga 1 Milyard adalah harga yang pantas. Pada akhirnya kita membeli rumah tersebut dengan harga 1 Milyar. Saat properti sudah menjadi milik kita, disaat kita membutuhkan uang extra, pihak ketiga seperti bank, tidak akan mungkin menghargai properti tersebut seharga 500 Juta. Bahkan bisa jadi jauh dibawah 500 juta. Karena inilah kita anggap rugi. Sebagai tipsnya, untuk kita yang masih awam, kita bisa saja mempertimbangkan harga properti dengan pihak bank untuk mengetahui harga sebenarnya.

Terlalu berani dalam meminjam uang ke pihak ketiga

Untuk kesalahan berbisnis properti yang satu ini, kita berkaitan dengan pinjaman modal. Sebagai contoh, seorang pembisnis properti tanpa modal mempunyai sebuah usaha di bidang komputer. Dengan usaha dibidang komputer tersebut, ia mampu mengajukan pinjaman ke Bank. Dan ada sebuah properti yang dijual dengan harga 500 Juta. Dengan usaha komputer yang sudah di tekuni, maka pihak bank berani memberikan pinjaman sebesar 300 Juta dengan background usaha yang ada ditambah properti yang ingin dibeli sebagai agunannya.

Saat kita berani mengambil hutang 300 juta dengan asumsi untuk pembelian properti 500 Juta, ini berarti kita telah melakukan kesalahan. Karena, sebagai pembisnis properti, saat kita mengajukan pinjaman ke Bank untuk melalukan pembelian properti, kita harus mendapatkan uang lebih. Jika ada properti seharga 500 Juta, paling tidak kita harus mendapatkan pinjaman sebesar 500 Juta atau lebih. Sebagai contoh Pinjaman 750 Juta. Sehingga kita mendapat cash back sebesar 250 Juta yang dapat kita putar untuk menambah modal usaha yang ada, atau sebagai biaya renovasi jika memang diperlukan. Inilah perhitungan yang benar jika kita melakukan pinjaman ke pihak ketiga.

Salah memperhitungkan kelayakan bangunan

Kelayakan bangungan atau properti sering diabaikan seseorang. Karena inilah pertimbangan kelayakan bangunan harus diperhatikan agar tidak melakukan kesalahan berbisnis properti.

Sebelum kita melakukan pembelian sebuah properti, kita harus memperhitungkan antara harga jual dengan kelayakan bangunan. Sekalipun harga properti tersebut dijual dibawah harga pasaran, jika bentuk bangunan sudah tidak layak huni, kita harus memperhitungkan pula besaran biaya untuk kita melakukan renovasi.

Kesalahan yang sering dilakukan bagi pembisnis properti pemula adalah mengabaikan kelayakan bangunan. Dalam pikirannya yang penting dapat properti, dalam satu atau dua tahundapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Lalu dapat untung untuk beli properti yang lainnya lagi.

Padahal, jika kita membeli sebuah properti dengan struktur bangunan yang sudah tidak layak huni, kita sangat beresiko rugi. Jika saja bangunan itu roboh, selain kita kehilangan harga jual, kita akan berpotensi terkena denda jika saja ada korban dalam insiden tersebut. Karena inilah, kejelian kita dalam menakar layak atau tidaknya sebuah bangunan menjadi salah satu syarat untuk memulai bisnis properti.

Tergiur dengan bisnis yang lain sekalipun bisnis itu sejenis

Kesalahan berbisnis properti di poin ini berkaitan dengan pengembangan usaha. Sedangkan yang kami maksud dengan bisnis yang sejenis adalah sebuah usaha yang sama namun di bidang yang berbeda.

Seperti contoh, ada seorang pembisnis properti yang mampu meraup untung 500 Juta dalam kurun waktu 2 Tahun terakhir dengan modal utama 500 Juta. Dengan uang 1 Milyar ditangan, memberanikan diri membeli sebuah lahan kavling untuk didirikan perumahan. Setelah mendapatkan calon pembeli tetap, akhirnya ia berani memulai pembangunan perumahan tanpa memperhitungkan faktor x. Saat ditengah jalan, kehabisan dana dan proses pembangunan terpaksa berhenti. Selain uang yang tidak bisa berputar, jika pembangunan lepas dari penjadwalan, bisa saja ia di tuntut oleh calon pembeli untuk mengembalikan uang yang pernah diberikan sebagai bentuk DP.

Jika hal ini terjadi, maka kita akan berpeluang rugi total jika kita tidak mendapatkan sedikit keberuntungan. Bagaimana tidak?. Jika kita tidak mampu menyelesaikan pembangunan perumahan, maka kita harus mengembalikan uang DP yang telah disetorkan oleh para pembeli. Di samping itu, kita harus tetap bisa mengangsur pinjaman ke pihak bank. Jika kita benar-benar tidak mampu mencari solusi uang tambahan, maka sudah barang tentu segala aset akan disita oleh pihak bank. Ini artinya, kita kehilangan hampir seluruh waktu dan uang yang telah kita curahkan selama ini. Hal ini bukan hanya pernah terjadi, melainkan sering terjadi dalam kehidupan nyata. Untuk itulah, spekulasi yang tinggi harus di imbangi dengan pengalaman yang memadai agar tidak terjerumus dalam jurang kebangkrutan.


☼ Joko Kristanto

Berbagi informasi dan pengalaman seputar wirausaha dan bisnis. Membantu menyalurkan pengalaman meskipun hanya seadanya. Mendirikan paguyuban pelatihan kemandirian secara gratis dibawah naungan Wirasejati Jaya Group. Kami memerlukan kerja sama dari semua pihak untuk mencapai tujuan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Nuwun sewu ongko ingkang paling ageng - bilangan terbesar